Gandeng Pegiat Sejarah, Pemkot Pasuruan Bedah Soal Cerita Rakyat Dalam Sejarah.


Pasuruan, -- Dalam rangka memperingati HUT Kemerdekaan ke-81 Republik Indonesia, Pemerintah Kota (Pemkot) Pasuruan melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan kolaborasi bersama para tokoh seni dan budaya menggelar Sarasehan bertema "Menyikapi Cerita Rakyat Dalam Arus Sejarah". Kegiatan yang berlangsung khikmad di ruang terbuka tepatnya di Taman Harmoni, Jl. Pahlawan, Kota Pasuruan dibuka langsung oleh Wali Kota Pasuruan, DR. Adi Wibowo, Rabu (26/08/2026) malam

Acara sarasehan tersebut menghadirkan dua narasumber diantaranya, Sulikin, S.Pd., S.S., (Staf Kementerian Kebudayaan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XI) dan Sisco (Dosen Universitas Ciputra Surabaya) dengan moderator M. Imad Hamdy dihadiri pegiat budaya FX Domini BB Hera.para pegiat sejarah dan para seniman, budayawan serta mahasiswa yang ada di Kota Pasuruan. 

Sarasehan ini menjadi momen penting dalam merefleksikan antara cerita rakyat dengan jejak sejarah dan mengajak generasi muda tidak sekadar mewarisi cerita rakyat, tetapi mampu menelusuri, menelaah, dan meneladani nilai yang terkandung di dalamnya. Cerita rakyat tak semestinya berhenti sebagai kisah yang diwariskan dari mulut ke mulut. Di balik legenda, mitos, maupun cerita yang berkembang di tengah masyarakat, tersimpan nilai budaya dan pesan kehidupan yang penting untuk dipahami generasi penerus.

Wali Kota Pasuruan, Adi Wibowo mengatakan cerita rakyat merupakan bagian dari kekayaan budaya yang perlu dijaga keberlangsungannya. Menurutnya, warisan cerita lokal dapat menjadi sarana mengenalkan identitas daerah kepada generasi muda.

""Cerita rakyat sebaiknya dipandang sebagai salah satu sumber informasi, bukan sebagai satu-satunya bukti sejarah. Kita perlu membandingkannya dengan bukti fisik seperti arsip, prasasti, peninggalan purbakala, hingga catatan perjalanan,” ujarnya

Ia menilai pemahaman terhadap sejarah lokal harus dibangun secara kritis. Masyarakat perlu membedakan antara cerita yang berkembang secara turun-temurun dengan fakta sejarah yang memiliki sumber dan bukti pendukung. Adi berharap agar generasi muda tidak cukup hanya menjadi pendengar atau penerus cerita.

Adi menekankan pentingnya cara pandang kritis dalam mempelajari sejarah lokal. Sebab, cerita yang berkembang secara turun-temurun tidak selalu dapat ditempatkan sebagai fakta sejarah.

Karena itu, penelusuran sumber dan bukti menjadi bagian penting ketika sebuah cerita rakyat dikaitkan dengan peristiwa sejarah. Dengan begitu, masyarakat tetap bisa menjaga warisan budaya tanpa mengabaikan kaidah dalam memahami sejarah.

Pj. Sekretaris Daerah Kota Pasuruan, Lucky Danardono menyampaikan bahwa penguatan literasi sejarah penting dilakukan agar masyarakat memahami perjalanan daerah sekaligus mengenali akar budayanya.

Menurutnya, sejarah tidak cukup dipelajari melalui catatan tertulis. Cerita yang hidup di tengah masyarakat juga dapat menjadi bahan untuk memahami nilai sosial dan budaya, sepanjang ditempatkan sesuai konteksnya.

"Karena itu, pemerintah kota mendorong ruang dialog yang mempertemukan generasi muda dengan pelaku budaya dan pemerhati sejarah. Forum tersebut diharapkan membuat pembelajaran sejarah lokal lebih dekat dengan kehidupan masyarakat," kata Lucky

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Pasuruan Siti Rochana turut mendorong keterlibatan masyarakat dalam upaya pelestarian sejarah dan budaya. Menurutnya, keberlangsungan budaya membutuhkan keterlibatan lintas generasi dan tidak boleh berhenti sebatas kegiatan seremonial.

Dalam forum tersebut, peserta diajak memahami perbedaan antara cerita rakyat, legenda, mitos, dan fakta sejarah. Pembahasan itu menjadi salah satu bagian penting karena cerita yang diwariskan secara lisan memiliki karakter dan kedudukan yang berbeda dengan fakta sejarah yang didukung sumber maupun bukti.

Suasana sarasehan juga dikemas dengan sentuhan seni tradisional. Kegiatan diawali registrasi peserta, kemudian dilanjutkan penampilan Terbang Bandung dan musik keroncong. Pembukaan resmi turut dimeriahkan Tari Sekar Paravan.

Mocopatan juga ditampilkan sebagai bagian dari pengenalan seni tutur tradisional Jawa. Seni tersebut menunjukkan bagaimana tradisi lisan selama berabad-abad menjadi salah satu media masyarakat dalam menyampaikan cerita, pesan moral, sekaligus nilai budaya.

Memasuki sesi utama, Sulikin dari bidang kebudayaan dan pelestarian budaya Provinsi Jawa Timur bersama Mas Sisco hadir sebagai narasumber. Keduanya mengupas cerita rakyat dari sudut pandang sejarah dan kebudayaan melalui dialog interaktif dengan peserta.

Pertanyaan mengenai berbagai cerita rakyat yang berkembang di Kota Pasuruan turut muncul dalam diskusi. Peserta diajak melihat cerita rakyat bukan hanya sebagai kisah masa lalu, tetapi juga sebagai warisan budaya yang memiliki nilai sosial dan dapat menjadi pintu masuk untuk mengenal sejarah daerah.

Sulikin mengingatkan agar pelestarian cerita rakyat tetap dibarengi sikap kritis dalam membaca sejarah.

“Cerita rakyat harus kita telusuri, telaah, dan teladani nilai baiknya. Jangan semua cerita langsung dianggap sebagai fakta sejarah tanpa melihat sumber dan konteksnya,” ujarnya.

Sementara itu, Mas Sisco menilai generasi muda memiliki posisi penting dalam menjaga cerita rakyat agar tetap hidup di tengah perubahan zaman. Cerita lokal, kata dia, akan terus memiliki tempat apabila generasi penerus memahami bukan hanya alur ceritanya, tetapi juga makna dan konteks budaya yang menyertainya.

Sarasehan ditutup dengan penyampaian kesimpulan dan sesi foto bersama. Pemerintah Kota Pasuruan berharap kegiatan tersebut tidak hanya memperkuat literasi sejarah, tetapi juga menumbuhkan kesadaran generasi muda bahwa menjaga budaya berarti memahami, merawat, sekaligus mampu membaca warisan masa lalu secara kritis. (Ich)

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama

Formulir Kontak