Bandung- mediarakyatnusantara.online,- Dalam obrolan dengan seorang Kyai yang menerawang kondisi amburadulnya negara akibat para pejabat yang tidak amanah, muncul persepsi bahwa sekarang ini banyak pejabat yang sakit jiwa. Pengaruh posisi dan lingkungan yang menjadi penyebabnya. Depresi atas rayuan relasi sosial, cemas berjarak kekayaan dengan sejawat atau atasan, mania pada pengaruh, sanjungan, nafsu besar untuk menaikkan status simbol, serta budaya serba cepat atau instan.
Mental disorders sesungguhnya adalah mental illness. Korup adalah perilaku sakit jiwa. Bukan karena kebutuhan yang menjadi penyebabnya melainkan keserakahan. Ada mania, depresi, atau halusinasi. Pejabat tinggi atau rendah mudah tertular bahkan saling menularkan. Bukan awam yang rentan sakit jiwa tetapi pejabat. Mereka tertawa dalam kesedihan, foya-foya dalam kesemrawutan, meronta-ronta di tengah kebebasan, dan menjadikan pengadilan untuk menegakkan kezaliman.
Kata si Cepot nikel diserahkan ke asing, batubara untuk asing, timah diberikan kepada asing, nah hutang diserahkan pada rakyat. Gunung milik pejabat, hutan mengayakan konglomerat, laut menyejahterakan aparat, ketika beban utang berat maka berpidato bahwa kesulitan bangsa harus ditanggung bersama seluruh rakyat. Ketika bagi untung itu hasil kerja keras sendiri, ketika rugi itu bagian dari rakyat pribumi. Pajak dianggap kurang kuat dan aparat kurang keras menginjak.
Para pejabat itu sakit dan harus segera masuk ke rumah sakit jiwa. Jika tidak, maka negara ini semakin gila. Polisi mengamankan masyarakat, namun masyarakat tidak aman jika urusan di tangani polisi. Jaksa mewakili rakyat untuk menuntut penjahat, justru jaksanya sama-sama menjadi penjahat. Anggota DPR itu wakil rakyat, tetapi kesejahteraan dan kebahagiaan rakyat cukup diwakili oleh anggota DPR. Rakyat mewakili dirinya dalam kemelaratan dan penderitaan.
Presiden jadi pengamen, Menteri kosongkan kas negeri, Gubernur keliling buat konten penghibur, Walikota mata air sedangkan warga berurai air mata. Bupati menjadi mainan oligarki, Camat dan Kades diajak korupsi lewat koperasi. Dari atas sampai bawah berjudi dengan jabatan dan mencari celah korupsi untuk memperkaya diri. Jabatan diburu untuk kekayaan. Kejujuran menjadi barang langka bagi para pemburu kuasa.
Benar, perlu segera buat Rumah Sakit Jiwa khusus Pejabat, agar ke depan negara menjadi sehat dan kuat. Di rumah sakit itu ada orang yang berdiri sambil berpidato ngalor ngidul, ada yang berjas dasi menjajakan nasi basi, yang lain mengikatkan tambang ke leher sambil bernyanyi izin..ooh..izin. Ada yang kerjanya mencangkul-cangkul seolah membikin bunker, ada pula yang mengepit map kosong dan omong kiri kanan ini ijazahku..ini ijazahku. Dasar gila.
Banyak aktivitas orang-orang pejabat gila harta dan kuasa. Perilakunya tunjuk sana tunjuk sini atau membungkuk sambil julurkan lidah menjilat-jilat. Yang bagi-bagi amplop juga ada dengan senyum-senyum sok wibawa. Penghuni lain kerjanya hitung lembaran kertas dekil milyar..milyar, sambil tertawa-tawa. Terus menangis berguling-guling. Dasar gila.
Rumah Sakit Jiwa Khusus Pejabat itu adalah rumah komunitas pejabat yang punya mata tapi buta, punya telinga tapi tuli, dan punya hati tapi tak ada rasa. Mereka adalah hewan buas pemangsa sesama. Dunia menjadi penjara baginya dan tempat di akherat kelak adalah Neraka.
Sesal tidak berguna. Orang-orang itu tertipu oleh fatamorgana, Dasar gila.
*) Pemerhati Politik dan Kebangsaan
Bandung, 24 Juli 2026
