Pasuruan - Taman Safari Indonesia Prigen, Kabupaten Pasuruan, menjadi salah satu persinggahan terakhir International Animal Photo & Video Competition (IAPVC) 2026. Setelah menyapa komunitas di berbagai daerah, Taman Safari Indonesia Prigen tempat sebagai rangakaian roadshow IAPVC 2026. Kegiatan berlangsung mulai 12-13 September 2026 dengan mengusung tema “From Lens to
Legacy”,
Roadshow ini menjadi ruang bagi fotografer, videografer, kreator, dan komunitas untuk
bertemu, berkarya, sekaligus menangkap cerita satwa dan konservasi melalui lensa mereka.
Sebagai bagian dari rangkaian menuju roadshow Taman Safari Indonesia Prigen, sebelumnya diawali juga dengan menggelar Kopdar IAPVC di Surabaya pada Rabu 9 September 2026 yang mempertemukan komunitas fotografi dari berbagai kalangan di Jawa Timur.
Presiden Direktur Taman Safari Indonesia, Aswin Sumampau, menyampaikan IAPVC tahun ini menjadi momentum penting, karena kompetisi ini telah berlangsung selama 35 tahun secara berkelanjutan.
“Acara ini merupakan penyelenggaraan IAPVC yang ke-35 tahun dan menjadi kompetisi foto tertua yang dilaksanakan secara tahunan atau terus menerus di Indonesia,” kata Aswin katanya saat doorstop dengan awak mediavdi Taman Safari Indonesia Prigen, Sabtu (12/9/2026)
Menurutnya, dalam kompetisi kali ini, peserta tidak dibatasi pada jenis satwa tertentu. Hal terpenting justru bagaimana sebuah karya mampu menyampaikan pesan konservasi.
“Target hewan tidak ada, tetapi yang kita lihat adalah pesan konservasinya,” ujarnya
Aswin, juga mengatakan antusiasme terhadap IAPVC semakin terus berkembang. Pada penyelenggaraan tahun lalu, tercatat sekitar 9.000 peserta dengan jumlah karya mencapai lebih dari 18.000 hingga 19.000 foto dan video.
“Tahun ini kita harapkan lebih, karena pesan konservasi ini sangat penting untuk didorong ke seluruh masyarakat,” katanya.
Selama di Taman Safari Indonesia Prigen, para peserta roadshow mendapat kesempatan mengikuti Safari Journey untuk mengabadikan aktivitas satwa secara langsung. Selain itu, terdapat sesi hunting photo with models yang menantang fotografer menggabungkan unsur manusia dan satwa dalam sebuah cerita visual.
Kehadiran komunitas fotografi dari sejumlah daerah di Jawa Timur turut menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Komunitas dari Surabaya, Malang, Sidoarjo, Pasuruan, dan daerah lainnya bertemu sekaligus bertukar pengalaman dan perspektif mengenai fotografi.
Bagi Taman Safari Indonesia, kegiatan fotografi tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperluas pesan konservasi kepada publik.
Aswin menerangkan konservasi merupakan salah satu pilar utama Taman Safari Indonesia. Ia menilai, satwa endemik Indonesia membutuhkan perhatian yang lebih luas dari masyarakat.
“Di Taman Safari Indonesia Prigen ada lebih dari 70 spesies burung program konservasi, trenggiling, Elang Jawa, Komodo, hingga Gajah Sumatra. Pak Jansen selaku founder kami juga sedang sangat aktif dalam konservasi badak,” jelasnya.
Lebih lanjut, Aswin menyebut isu konservasi satwa dari tahun ke tahun semakin mendesak. Karena itu, Taman Safari Indonesia berupaya mengambil peran melalui berbagai kegiatan yang dapat meningkatkan kepedulian masyarakat.
“Isu konservasi dari tahun ke tahun menjadi makin darurat. Kami melihatnya secara positif, apa yang bisa kami lakukan untuk konservasi satwa endemik Indonesia, ya kami lakukan,” imbuhnya
Dalam kesempatan tersebut, saat disinggung mengenai kebakaran hutan di kaki Gunung Arjuno yang sebelumnya terjadi. Aswin memastikan kondisi tersebut telah teratasi dan satwa di kawasan Taman Safari Indonesia Prigen dalam keadaan aman.
“Terkait kebakaran hutan di kaki Gunung Arjuno yang kini sudah teratasi, kami mendukung pemerintah dari sisi sumber daya manusia hingga pasokan air untuk memastikan hal tersebut tidak terjadi lagi. Untuk hewan, semuanya aman,” tegasnya.
Sementara itu, Founder Taman Safari Indonesia, Jansen Manansang, menilai fotografi memiliki peran penting dalam memperkenalkan program konservasi kepada masyarakat. Menurutnya, konservasi tidak hanya berkaitan dengan perlindungan satwa, tetapi juga mencakup pelestarian dan pemanfaatan untuk kepentingan pendidikan serta penelitian.
“Konservasi dengan keterlibatan foto itu banyak manfaatnya, karena konservasi memiliki tiga fungsi: pertama perlindungan untuk penyelamatan, kedua pelestarian, dan ketiga pemanfaatan untuk pendidikan, penelitian, serta lomba foto ini supaya publik bisa mengetahui kesadaran program konservasi,” ujar Jansen.
Kehadiran Marrysa Tunjung Sari, fotografer profesional sekaligus juri IAPVC 2026, turut
memberikan perspektif dan pengalaman bagi peserta dalam mengembangkan karya fotografi
yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga memiliki cerita.
Selain menjadi ruang berkarya, IAPVC 2026 juga menawarkan hadiah bagi para peserta. Kompetisi tahun ini menyediakan sejumlah kategori, mulai dari Wildlife Photo Story, Wildlife Young Creator, Wildlife Short Video Story, Wildlife Roadshow Story Challenge, Wildlife Journalist Story hingga People’s Choice Awards.
Grand prize yang disiapkan berupa Wuling Air EV, ditambah hadiah uang tunai jutaan rupiah bagi para pemenang.
Pendaftaran IAPVC 2026 masih dibuka hingga 30 September 2026. Masyarakat yang memiliki karya foto maupun video bertema satwa dan konservasi masih memiliki kesempatan untuk ambil bagian dalam kompetisi tersebut.
Pengumuman pemenang dijadwalkan berlangsung pada November 2026 setelah seluruh rangkaian kompetisi dan proses penjurian selesai.
Melalui tema “From Lens to Legacy”, IAPVC 2026 diharapkan tidak berhenti sebagai ajang berburu foto. Lebih dari itu, setiap karya diharapkan mampu menjadi cerita yang mengajak masyarakat mengenal, menghargai, dan ikut menjaga satwa serta alam Indonesia.
Tentang Taman Safari Indonesia
Taman Safari Indonesia adalah taman rekreasi bertema dan lembaga konservasi kelas dunia
yang terletak di enam lokasi dan empat resort di seluruh Indonesia. Taman ini memiliki lebih dari
673 spesies dan 22963 satwa dan menarik lebih dari 5 juta pengunjung setiap tahunnya.
Sejak tahun 1980, Taman Safari Indonesia telah memainkan peran penting dalam menyelamatkan,
merehabilitasi, dan melepaskan ribuan hewan kembali ke alam liar. Sebagai hasilnya, Taman
Safari Indonesia telah menjadi organisasi konservasi global terkemuka untuk satwa liar endemik
Indonesia dan spesies yang terancam punah.
Taman Safari Indonesia telah meraih empat
sertifikasi internasional dan lebih dari 20 penghargaan nasional atas upayanya dalam bidang
konservasi dan rekreasi.
Perjalanan Taman Safari Indonesia dimulai dengan pembukaan area konservasi satwa liarnya
yang pertama, The Great Taman Safari Bogor, di Cisarua, Bogor, pada bulan April 1986. Seiring
berjalannya waktu, Taman Safari Indonesia memperluas jejaknya dengan mendirikan The Grand
Taman Safari Indonesia Prigen di Pasuruan, Jawa Timur, pada bulan Desember 1997.
Keberhasilan dua area konservasi ini menginspirasi Taman Safari Indonesia untuk menciptakan
situs tambahan, termasuk The Amazing Taman Safari Bali, The Fantastic Beach Safari di
Batang, Jawa Tengah, Jakarta Aquarium & Safari, Solo Safari, dan yang terbaru Marine Safari
Bali, Varuna Bali dan Enchanting Valley Bogor. Taman Safari Indonesia juga mengawasi beberapa bisnis terkait pariwisata, seperti Royal Safari Garden, Safari Resort, Baobab Safari Resort, Mara River Safari Lodge, dan Gerai Souvenir Safari Wonders. (Icw)

