Pasuruan, — Suasana duka dan amarah menyelimuti momentum kemerdekaan di Pasuruan. Menyikapi tragedi hilangnya nyawa warga sipil di Kecamatan Beji akibat dugaan penganiayaan oknum aparat penegak hukum, Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Pasuruan Raya (BEMPAS) resmi menggelar konferensi pers dan deklarasi perlawanan.
Dalam pernyataan sikapnya, aliansi mahasiswa mengutuk keras insiden tersebut dan menyatakan bahwa Pasuruan saat ini berstatus "Darurat Keadilan". Tragedi di Beji dinilai sebagai tamparan keras yang meruntuhkan makna perayaan 81 tahun kemerdekaan Republik Indonesia.
Aliansi Bem Pasuruan Raya, dengan tegas menyoroti ironi tajam antara seremonial negara dan realita di lapangan. Kematian warga Beji ditegaskannya bukan sekadar kelalaian oknum, melainkan bukti nyata kegagalan aparat penegak hukum dan bobroknya pengawasan penguasa daerah.
"Kita patut bertanya secara lantang: merdeka untuk siapa? Jika nyawa rakyat sipil bisa melayang begitu saja di tangan oknum berseragam, sementara wakil rakyat di DPRD dan jajaran Pemkab Pasuruan memilih bungkam dan bersembunyi di balik meja birokrasi, maka sistem ini telah gagal melindungi warganya," tegasnya.
Lebih lanjut, Bempas memastikan bahwa elemen mahasiswa tidak akan membiarkan kasus ini menguap. Kebisuan tiga pilar kekuasaan aparat yang represif, Pemkab yang pasif, dan DPRD yang mandul dalam pengawasan dianggap sebagai bentuk pembiaran terstruktur atas pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) di tanah Pasuruan.
Seruan Aksi Turun ke Jalan
Melalui konferensi pers ini, BEMPAS mengeluarkan instruksi darurat dan seruan terbuka kepada seluruh elemen pergerakan. Menggugat impunitas tidak cukup hanya lewat ruang ruang diskusi, melainkan harus dibawa ke jalanan.
Aliansi mengundang seluruh mahasiswa, organisasi pemuda, serikat buruh, petani, dan masyarakat sipil Pasuruan untuk mengosongkan ruang kelas dan menghentikan rutinitas sejenak, guna merapatkan barisan dalam Aksi Demonstrasi "Pasuruan Menggugat" yang dijadwalkan pada:
* Hari, Tanggal: Kamis, 20 Agustus 2026
* Waktu: 14.00 WIB - Menang
* Dresscode: Pakaian Hitam (Sebagai simbol duka cita atas matinya keadilan) atau Jas Almamater.
"Jika ruang audiensi dan birokrasi tak lagi memihak pada kebenaran, maka jalanan adalah satu-satunya pengadilan kita. Satu warga tersakiti, seluruh Pasuruan merasakan perihnya. Kami mengajak seluruh elemen rakyat untuk turun pada 20 Agustus nanti. Kita kepung pusat kekuasaan, adili aparat brutal, dan gugat penguasa yang bisu!" pungkas pernyataan resmi aliansi.
Tidak ada ruang aman bagi pembunuh berseragam dan pejabat pengecut. Rakyat Pasuruan menolak lupa, dan akan terus melawan hingga keadilan bagi korban di Beji benar-benar ditegakkan. (Ich)
