Bandung- mediarakyatnusantara.online,- Aneh menunggu pidato bukan penasaran atau gembira tetapi cemas. Masalahnya bukan tidak bisa pidato bahkan ia jago dan kadang berapi-api, ekspresif, dan dinamik. Persoalannya adalah kadang bahkan sering dalam pidatonya tersusupi diksi, aksi, atau improvisasi yang kontroversi, akibatnya rusak mutu konten keseluruhan. Setitik nila rusak susu sebelanga. Begitulah Presiden Prabowo jika berpidato.
Semestinya pidato kenegaraan 14 Agustus 2026 adalah arahan atau jawaban strategis terhadap berbagai persoalan rakyat dan bangsa. Ruwet sekali kehidupan bernegara saat ini. Sayangnya Prabowo dinilai bukan sebagai penyelesai masalah tetapi justru menjadi bagian dari masalah itu sendiri. Khawatir jika pidato kenegaraan nanti menjadi prahara yang tidak terduga. Tampilan dari seorang Presiden yang sok tahu tapi nyatanya tidak bermutu.
Komentar netizen nakal-nakal atas rencana pidato kenegaraan Prabowo 14 Agustus. Ada yang nyeletuk "waduh pidato lagi", "hari was was nasional ketika Presiden pidato", "siap-siap tensi darah pada naik", "beuh pidato 2 sesi, kiamat maju 2 hari", "simak pidatonya seru, pasti ada pelawak baru stand up komedi", "biar tebak isi pidato. Sodara sodara, kita bangsa besar, MBG bermanfaat", "awas berbahaya, segera ganti atap rumah dengan ijuk", "semoga mic nya nyetrum" dan banyak lagi.
Presiden Prabowo seperti berhalusinasi menjadi Soekarno. Beda jauh, Soekarno menggelorakan revolusi, Prabowo ciut nyali mendengar revolusi. Soekarno bisa omon, bisa bertindak, Prabowo tindakannya hanya omon-omon. Prabowo tidak bisa berdiri di kaki sendiri, takut pada Joko Widodo dan Lisyo. Dicemberuti teddy juga mungkin gemetar. Rakyat hanya menjadi slogan tapi aspirasinya dianggap kotoran dan dibuang ke pinggir jalan.
Menunggu pidato 14 Agustus seperti menunggu godot. Harapan tipis ada keberanian untuk mengambil kebijakan besar penyelamatan bangsa. Sense of crisis mesti ada dan dibangun, pemberantasan korupsi bukan basa basi, mulailah dari diri sendiri yang juga gak bersih bersih amat, oligarki ditempatkan di depan untuk dilawan, bukan di samping menjadi teman seiring, aparat penegak hukum tertibkan, mereka banyak yang berfungsi sebagai perusak hukum.
Apapun sikap skeptis kita, tetap kita tunggu pidato kenegaraan 14 Agustus 2026. Moga bukan sekedar kampanye MBG, KMP, SR, URI dan program seenak udel lainnya. Jika pidato itu bermakna, maka Prabowo akan lolos sampai akhir periode. Sebaliknya jika pidato itu butut dan hanya rangkaian kata-kata berbunga maka sampai Oktober saja mungkin ia bertahta. Prabowo-Gibran Endgame.
Cukup sudah kesabaran rakyat sebagai korban.
Seperti dalam Menunggu Godot nya Samuel Beckett, Vladimir (Didi) dan Estragon (Gogo) berbicara ngalor ngidul tentang sepatu dan topi di bawah pohon kering menunggu kedatangan Godot. Ketika datang Pozzo mereka kira itu Godot. Pozzo seorang yang senang melecuti budaknya, Lucky.
Rakyat menunggu kehadiran negara untuk membantu mengatasi penderitaan. Tetapi negara itu tidak pernah hadir. Yang datang hanya Prabowo yang melecuti dengan omon.
Rezim omon terdiri dari Presiden omon-omon, Wapres tidak bisa omon, Menteri yang asal omon, DPR banyak omon, sementara rakyat tidak boleh omon.
14 Agustus nanti yang akan datang itu Godot atau hamya orang kejam Pozzo ?
Didi dan Gogo ngobrol lagi di bawah pohon kering.
Rakyat terus menunggu dan menunggu.
*) Pemerhati Politik dan Kebangsaan
Bandung, 6 Agustus 2026
