Pasuruan ,— Sejumlah elemen masyarakat Kota Pasuruan bertemu dalam forum “Guyub Bareng Lintas Elemen Kota Pasuruan: Temu Santai, Gagasan Nyata” yang berlangsung di Mie SS Kota Pasuruan, Senin (28/9/2026).
Forum tersebut mempertemukan berbagai perspektif, mulai dari akademisi, mahasiswa hingga elemen masyarakat.
Pertemuan digelar sebagai ruang dialog untuk membicarakan berbagai persoalan Kota Pasuruan sekaligus mendorong lahirnya gagasan yang dapat dikembangkan secara bersama.
Akademisi Adi Nur Aziz, S.H., M.H. menekankan pentingnya membangun ruang dialog yang sehat di tengah masyarakat. Menurutnya, perbedaan pandangan merupakan bagian dari kehidupan publik dan perlu dikelola melalui komunikasi yang terbuka.
“Ruang dialog harus menjadi tempat masyarakat menyampaikan pandangan secara terbuka, tetapi tetap bertanggung jawab. Perbedaan pendapat tidak seharusnya menjadi alasan untuk saling menjauh, melainkan menjadi bahan untuk mencari pemahaman dan solusi bersama.” ujarnya
Dari unsur mahasiswa, Muhammad Qommaruddin menyampaikan bahwa mahasiswa memiliki peran untuk ikut membaca berbagai persoalan yang terjadi di lingkungan masyarakat.
“Mahasiswa tidak cukup hanya menjadi penonton atas persoalan yang terjadi di Kota Pasuruan. Kita memiliki tanggung jawab intelektual untuk membaca realitas, menyampaikan kritik berdasarkan fakta, sekaligus ikut menghadirkan gagasan yang bisa menjadi bagian dari solusi.” katanya
Ia menambahkan, ruang dialog lintas elemen penting agar pembahasan mengenai kota tidak hanya berasal dari satu kelompok.
“Kota Pasuruan adalah ruang hidup bersama. Karena itu, persoalan kota juga perlu dibicarakan bersama. Mahasiswa, masyarakat, pekerja, pelaku usaha, komunitas dan elemen lainnya memiliki pengalaman serta perspektif yang berbeda. Perbedaan itulah yang perlu dipertemukan.” terang Qommaruddin
Sementara itu, Eko Ardianto dari PDOI menyoroti pentingnya menghadirkan perspektif masyarakat dalam setiap pembicaraan mengenai persoalan daerah.
“Masyarakat memiliki pengalaman langsung terhadap berbagai persoalan yang terjadi di lapangan. Karena itu, suara masyarakat perlu mendapatkan ruang untuk disampaikan dan didengar dalam setiap pembahasan mengenai Kota Pasuruan.” ujarnya
Menurutnya, komunikasi antarelemen menjadi penting agar persoalan yang berkembang di masyarakat tidak hanya menjadi bahan perdebatan, tetapi dapat dibicarakan secara lebih terbuka.
Pertemuan tersebut juga menyoroti pentingnya menjaga keseimbangan antara sikap kritis dan tanggung jawab dalam menyampaikan pendapat. Kritik dinilai tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan demokratis, sepanjang disampaikan berdasarkan fakta dan tidak mengarah pada provokasi maupun narasi yang dapat menimbulkan keresahan.
Para peserta forum memandang bahwa ruang publik Kota Pasuruan perlu terus diisi dengan diskusi yang sehat, gagasan yang konstruktif, serta keterlibatan berbagai elemen masyarakat.
Forum “Guyub Bareng Lintas Elemen Kota Pasuruan” pada akhirnya tidak hanya menjadi pertemuan informal, tetapi menjadi ruang untuk mempertemukan perspektif akademisi, mahasiswa dan masyarakat.
Semangat yang dibawa dalam forum tersebut sederhana: bertemu untuk mendengar, berdiskusi untuk memahami, dan membangun gagasan untuk Kota Pasuruan. Kritis boleh. Tegas perlu. Bersahaja dalam cara, nyata dalam gagasan. (Ich)
